Datanglah ke Diniyyah Putri: Ada Nostalgia, Ada Sejarahnya
KOPI, Perguruan Diniyyah Puteri, sebuah sekolah islam khusus putri pertama di Asia Tenggara, yang sekarang akrab dengan sebutan pesantren modern. Sudah berdiri sejak 1 November 1923 di Padang Panjang. Prestasi ini telah diukir oleh seorang tokoh muslimah Minangkabau yaitu Rahmah El Yunusiyyah, di saat Beliau berusia 23 tahun. Pada waktu itu wanita Minangkabau tidak tau sedikit pun tentang pendidikan, akan tetapi Rahmah sudah mencetuskan inspirasi brilliant ini.
Yang membuat kita tak habis pikir dan juga salut kepada sosok Rahmah adalah, ketika bangsa Indonesia masih dihantui dengan ketakutan akibat penjajahan Belanda dan Jepang. Mereka sibuk untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing, jangankan untuk mengecap pendidikan, bisa aman dari serangan para kompeni sudah lebih dari cukup, apalagi mendirikan sebuah sekolah berbasis islam. Sungguh susah kita bawakan dengan kehidupan kita yang sekarang ini serba berkecukupan.
Tapi tidak untuk si wanita baja yang satu ini, tak jarang keinginannya mendirikan sekolah itu mendapat tantangan keras dari pemuka kaum adat. Mereka mengatakan tidak ada gunanya perempuan itu sekolah, karena tugas seorang wanita adalah mengurus rumah. Tak lebih dari dapur, sumur, kasur. Bukan hanya pemuka adat ini yang menentang bahkan sampai berbagai macam ancaman yang tidak manusiawi dilakukan oleh kompeni Belanda. Mereka memvonis Rahmah melakukan ordonansi sekolah liar. Namun di saat yang genting seperti itu Zainuddin Labay El Yunusy kakaknya tetap mendukung cita-cita mulia adiknya.
Mulailah Rahmah menghimpun dana untuk mendirikan sekolah tersebut, dari sekitar Sumatera samapi ke daerah-daerah lain seputar Indonesia, bahkan ke negri jiran Malaisya. Di Malaisya Rahmah bertemu dengan petinggi-petinggi negara yang sempat membuat hati mereka terketuk, hingga akhirnya mereka berpartisipasi dalam pembangunan Perguruan Diniyyah Puteri.
Dari perjalanan panjang itulah terkumpul dana dan berdirilah sekolah impian Rahmah tersebut. Di sana mengajarkan membaca, menulis, bahasa Belanda, menenun, menyulam, menjahit dan kebidanan. Juga diajarkan pelajaran berpidato, serta keterampilan putri lainnya.
Perannya dalam dunia pendidikan yang begitu menabjukkan, akhirnya Rektor Universitas Al-Azhar Kairo yaitu Dr.Syekh Abdurrahman Taj menganugerahi gelar syaikhah kepada Rahmah El Yunusyyah, pada tahun 1957. Sekaligus Rahamah juga pencetus inspirasi bahwasanya kaum hawa juga boleh menapakkan kakinya mengukir prestasi di Al-Azhar university sampai saat ini.
Selain menjadi pelopor berdirinya Diniyyah Puteri, Rahmah juga aktif dalam politik. Seberti ikut bergabuang dalam organisasi wanita dan juga sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia, hal ini sudah diawalinya dari tahun 1930-an. Rahmah juga orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di kota Padang Panjang, tepatnya 17 Agustus setelah diproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Tidak hanya remaja puteri Padang Panjang yang menuntut ilmu di Diniyyah Puteri, akan tetapi dari berbagai penjuru Indonesia. Bahkan putri dari pahlawan Aceh Tengku Panglima Polim belajar di sana.
Sekarang Fauziah Fauzan sebagai Rahmah era persaingan modern, melanjutkan tugas mulia yang pernah dirintis oleh pendiri Diniyyah Puteri sebelumnya. Disaat banyak bermunculan pesantren modern lainnya bersaing secara pesat. Diniyyah Puteri tetap berdiri axis mempertahankan nilai keislaman, kualitas dan mutu pendidikan, tanpa ketinggalan sebagai ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia internasional.
Sudah 87 tahun Diniyyah Puteri mengabdikan diri kepada masyarakat dengan mencetak alumni-alumni tebaik, diantaranya Mantan Mentri Sosial Tan Sri Datin Aisya Ghani, kemudian dua mantan ketua Dewan Partai Islam se Malaisya (PAS) Siti Zubaidah dan Siti Sakinah, serta Salmah Husain mantan direktur Bank Rakyat Malaisya. Dan juga pendiri kosmetik Wardah di Jakarta banyak digunakan para abg sekarang.
Dua puluh bendera dunia, berkibar indah diterpa angin. Berdiri kokoh di depan perpustakaan utama Zainuddin Labay, melambangkan semangat santri ingin menggenggam dunia dengan ilmu dan agama.
Ditambah keaktifan santri menjadi peserta olimpiade-olimpiade. Tak ketinggalan hebohnya OSIS yang selalu berkarya tiap minggunya dengan berbagai aktifitas, seperti belajar seni Al-quran, kaligrafi, tata boga, olahraga, bedah buku, bedah film, teater dan berbagai macam kegiatan ekskul lainnya. Tak terlupakan pula kegiatan drumband dan pramuka.
Sekarang sudah banyak para alumni melanjutkan studi di berbagai universitas ternama baik dalam maupun luar negeri, seperti UNP, UNAND,UNPAD, UNAIR, ITB,IPB,AL-AZHAR di Mesir dan berbagai universitas lainnya.
Banyak hal-hal lainnya yang menginspirasi di Diniyyah Puteri hingga tak bisa disebutkan satu persatu. Jika sempat datanglah ke tempat bersejarah tersebut.
Dengan temperatur udara yang khas serambi mekah, diapit antara dua gunung Merapi dan Singgalang. Penasaran…..? Datanglah ke sana untuk bernostalgia dengan sejarah, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Biodata Penulis
Nama lengkap : Lelen Sartika Woyla
Tempat/ tgl lahir : Aceh Barat, 21 November 1991
Alamat Sekolah : STIT Diniyyah Puteri Rahamah El Yunusiyyah, Jln. Abdul Hamid Hakim no: 30
Status : Mahasisiwi STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang
| Comments |
|
|
|||||
|
|||||
|
|||||
|
|||||
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Kelewat PD IKa eM Tenggelam di Kolam MIFAN
- Stasiun Kereta Api Padangpanjang
- Gratis Mini Zoo Lanudal Sediakan Mini Zoo Gratis bagi Masyarakat
- Temukan Pengalaman Seru di Ocean Park Hongkong
- Hingga Maret 2011, Wisman Kepulauan Riau Sebanyak 133.620 Orang
- Teluk Jailolo Masuk Program Pengembangan Wisata Bawah Laut Indonesia
- Dell Indonesia Gelar Dell Ambonesia Photografi Competition 2011
- Objek Wisata tak Bermakna Tanpa Promosi
- Daftar Obyek Wisata Kabupaten Luwu Timur
- Pariwisata Padang Panjang Perlu Sentuhan Lebih Serius
- Air Panas Menanti Investor
- Potret Tari Malaka Rajai Lomba Photography SIMFEST 2010
- Potensi Wisata Lutim Menjanjikan
- Pewarta Foto Manado Turun Meliput Perayaan Cap Go Meh
- Bukittinggi, Satu-satunya Tempat Wisata Manca Negara di Sumbar


























