Kelewat PD IKa eM Tenggelam di Kolam MIFAN
KOPI, Mifan Water Park adalah tempat yang banyak dikunjungi oleh masyarakat. Pengunjungnya tidak cuma berasal dari Padang Panjang tapi juga dari luar daerah. Hal ini disebabkan karena Mifan Water Park dan Resort memang merupakan wahana bermain basah nomor dua terbesar di Indonesia setelah Ancol.
Menuju ke sana, para pengunjung akan melewati satu plang besar yang bertuliskan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau yang disingkat dengan PDIKM. Bagi pemula, akronim ini agak sulit untuk diingat, apalagi menghafal kepanjangannya. Jadi judul diatas merupakan cara jitu untuk mengingat singkatan tersebut, karena terlalu PD IKa eM tenggelam dikolam Mifan. Walaupun maknanya negatif namun jangan berprasangka dulu, selain mempermudah menghafal akronim ini, sebenarnya banyak pesan terkias dari judul yang bernada tragis, tapi harus dibaca sampai akhirnya.
Bagi kebanyakan orang Sumatra Barat, Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau ini mungkin biasa saja. Bisa jadi ini disebabkan kurangnya informasi yang mengakibatkan asing terdengar kata Minangkabau atau telah terbawa virus modernisasi yang kebablasan, bahkan ada yang sering tidak sadar telah melewati PDIKM karena sibuk membayangkan indah, menyenangkan berenang dan bermain di Mifan Water Park.
Ketika kenalan dengan beberapa warga Padang Panjang disuatu acara seminar, ternyata mereka juga tidak tahu apa itu PDIKM, padahal mereka tinggal di Padang Panjang. Jadi miris juga mendengarnya. Kira-kira apa ya penyebabnya? Apakah kolam renang Mifan yang terlalu besar sehingga PDIKM tenggelam? Atau bayang-bayang Mifan yang kaburkan PDIKM. Atau juga PDIKM yang tersembunyi didepan Mifan….ah entahlah. Cerita mengenai perjalanan saya kesana mudah-mudahan bisa membawa inspirasi untuk perbaikan PDIKM kedepan.
Masih teringat ketika saya dan adik tercinta harus bersusah payah menemukan tempat ini Bagi kami petunjuk jalannya tidak terlalu jelas. Walau kami telah menemukan plangnya, namun ternyata plang besar tersebut agak berjauhan dengan posisi bangunan berarsitektur khas Minangkabau tersebut berada. Ditambah lagi kami orang yang sangat hemat bensin. Tidak mau jalan-jalan saja kalau tidak ada petunjuk yang jelas. Maklum, orang Minangkabau tulen ini ‘agak paetong’ (penuh perhitungan). Tapi tentu saja tidak sepelit tokoh diiklan ‘exist’ yang mengiconkan kata ‘hemat’.
Akhirnya dengan perasaan sedikit malu, kami menelepon panitia PPWI untuk menanyakan posisi PDIKM. Ternyata kalaulah kami mau agak sedikit berani, tidaklah sulit menemukan Rumah adat Minangkabau ini. Tepatnya di Kelurahan Silaiang Bawah yang hanya berjarak lebih kurang 2 km dari pusat kota Padang Panjang. Dari gerbang masuk PDIKM dan Mifan, telusuri jalan tersebut sampai menemukan komplek yang dkelilingi pagar besi. Dari kejauhan kelihatanlah Rumah Gadang tersebut. Mungkin yang akan kesulitan adalah bagi yang rabun jauh karena besarnya halaman bangunan Rumah Bagonjong tersebut sebagai titik sentral komplek PDIKM.
Bagi yang rabun jauh ternyata jangan berkecil hati. Ada plang PDIKM berikutnya didepan kompek. Namun plang itu kurang menarik, berwarrna gelap dan tulisannya kecil sehingga waktu itu kami tidak terlalu memperhatikannya. Yang kami temukan cuma gerbang komplek depan yang pagarnya sedikit tertutup. Ditambah lagi dengan tidak jelasnya apakah pendatang harus belok kiri atau kanan setelah berada didepan gerbang yang tertutup itu. Yang jelas disitu adalah panah kekanan menuju ke Mifan Waterpark.
Ketika dikonfirmasi ke Kepala Dinas Porbudpar Kota Padang Panjang Dra. Ernawati Nasution, MM, beliau menjelaskan bahwa masih banyak sebenarnya hal-hal kepariwisataan yang harus dibenahi. Namun masalah terbatasnya dana memang merupakan hal yang fundamental. Ditambah lagi dengan prinsip ibu Erna yang tidak mau setengah-setengah dalam pembangunan. Beliau menambahkan kalau ingin berhasil dalam kepariwisataan, memang harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya pembangunan fisik namun juga pembangunan mental para masyarakatnya yang notabene merupakan ujung tombak promosi bagi daerah lain.
Menyambung cerita tadi akhirnya kami temukan juga pagar masuk. Belok kanan, belok kiri, jalan terus dan eip.. Jangan terus dulu.. Walau gerbang megah Mifan telah memanggil-manggil disana, kita harus tahan sebentar.. Memasuki gerbang sederhana sebelah kiri sebelum Mifan bisa mencerdaskan kita. Kunjungan ini akan membawa kita ke tempo doeloe (dulu) yang tidak kalah menariknya. Disana terdapat tempat penyimpanan berbagai koleksi dan dokumentasi kebudayaan Minangkabau.
Jadi, tanggal 13-14 April 2011 adalah hari bersejarah bagi saya. Kenapa tidak. Dihari inilah mata dan fikiran saya tersadar akan keindahan dan sangat menariknya tempat tersebut. Tempat yang baru saya sadari sangat luar biasa lagi menginspirasi. Namun sayangnya selalu kalah oleh kehadiran pengunjung dibandingkan dengan Mifan WaterPark. Jujur saya sampaikan, tempat ini sangat sayang untuk dilewatkan. Bagi anda yang ingin menikmati wisata yang mengedukasi di Padang Panjang, PDIKM lah tempatnya. Walau terkesan tersembunyi didepan Mifan namun jika sudah ditemukan dan masuk mengitarinya akan sangat menyenangkan dan mencerdaskan.
Anda tertarik untuk mengetahui lebih jauh adat Minangkabau? Silakan tapaki beberapa tangga menuju Rumah berarsitektur tinggi tersebut. Maka anda akan disambut oleh senyum ramah beberapa petugas PDIKM dengan cuma membayar 2000 rupiah perorang. Namun ketika saya berkunjung kedalam dan meminta informasi tentang sejarah PDIKM secara tertulis, petugas mengatakan tidak ada referensi tertulis yang bisa dibawa tentang itu. Dan ketika saya meminta brosur tentang PDIKM, petugas juga mengatakan sedang habis. Kecewa juga sich..harusnya brosur selalu tersedia untuk pengunjung yang datang. Bukankah promosi dari mulut ke mulut tidak kalah efektif dibanding jenis iklan lainnya?
Dari gambaran perjalanan diatas, beberapa masalah dibawah ini diharapkan bisa jadi pertimbangan untuk kemajuan PDIKM kedepan.
1. akronim PDIKM yang terlalu panjang, kurang gaul dan sulit untuk diingat
2. gerbang PDIKM yang kurang terawat dan kurang menarik
3. petunjuk jalan kearah dalam setelah melewati gerbang PDIKM besar dipinggir jalan Raya yang kurang jelas.
4. kondisi halaman dan Rumah Gadang di PDIKM yang kurang terawat.
5. tidak selalu tersedianya brosur bagi pengunjung yang datang.
6. kurangnya promosi berupa keuntungan yang didapat bila mengunjungi atau pengadaan kegiatan disekitar PDIKM
7. kurangnya kesadaran generasi muda akan pentingnya mengetahui budaya Minangkabau
8. ketenaran Mifan gusur popularitas PDIKM.
Masalah terakhir inilah yang menjadi inspirasi tulisan ini. Banyak yang tahu Mifan, tapi tidak banyak yang tahu apa itu PDIKM. Padahal tempat ini berdekatan. Malah PDIKM lah yang lebih duluan bisa diakses baru Mifan karena Mifan terletak dibelakang PDIKM. Selain itu PDIKM menyimpan potensi yang luar biasa untuk dikunjungi.
Bagi anda yang tertarik mengetahui lebih jauh rumah adat Minangkabau dan filosofinya, para petugas dengan ramah akan menjelaskannya. Bagi yang berminat mengetahui dokumen tua tentang Minangkabau, anda juga bisa mendapatkannya baik dengan membacanya langsung dari buku asli dan kopian ataupun melalui alat canggih bantuan Pemerintah Australia yang disebut Micro Film Scanner. Selain itu, berpose dengan pakaian Minangkabau terutama bagi yang tidak sempat menggunakan pakaian sewaktu pernikahan dulu didepan pelaminan tentu juga pengalaman yang tak kalah menariknya. Aktifitas ini merupakan salah satu yang sangat diminati oleh pengunjung. Puas menikmati isi dalam Rumah Gadang, mata kita akan dimanjakan oleh indahnya pemandangan dihalaman Rumah Gadang. Selain untuk berjalan-jalan disekitar taman yang indah ini, anda juga bisa mengembangkan tenda di arena Camping Ground.
Dengan segala potensi yang luar biasa diatas, kita sangat berharap agar pemerintah setempat dapat memprioritaskan perbaikan fasilitas yang memadai dan SDM yang berkualitas untuk lebih menggeliatkan PDIKM yang nantinya diharapkan bangun dan bangkit. Apabila PDIKM terlalu PD dengan segala potensi yang ada dan tidak memberikan banyak perubahan kedepan, dikhawatirkan akan membuatnya terlewati saja oleh para generasi muda Minangkabau yang harusnya lebih tahu tentang budaya mereka. Jangan sampai mereka lebih rela tenggelam di kolam renang dibandingkan harus belama-lama di PDIKM.
Apapun alasannya, tetap saja masalah-masalah diatas tidak sebanding dengan rasa menyenangkan yang saya peroleh setelah mengunjungi PDIKM. Jangan biarkan PDIKM hanya dinikmati oleh pengunjung luar saja. Kita, sebagai masyarakat Padang Panjang dan sekitarnyalah yang harus lebih tahu dan lebih dekat lagi dengan PDIKM. Bagaimana menurut anda?
(Naskah Lomba Menulis Kepariwisataan PPWI Padang Panjang)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Stasiun Kereta Api Padangpanjang
- Gratis Mini Zoo Lanudal Sediakan Mini Zoo Gratis bagi Masyarakat
- Temukan Pengalaman Seru di Ocean Park Hongkong
- Hingga Maret 2011, Wisman Kepulauan Riau Sebanyak 133.620 Orang
- Teluk Jailolo Masuk Program Pengembangan Wisata Bawah Laut Indonesia
- Dell Indonesia Gelar Dell Ambonesia Photografi Competition 2011
- Objek Wisata tak Bermakna Tanpa Promosi
- Daftar Obyek Wisata Kabupaten Luwu Timur
- Pariwisata Padang Panjang Perlu Sentuhan Lebih Serius
- Air Panas Menanti Investor
- Potret Tari Malaka Rajai Lomba Photography SIMFEST 2010
- Potensi Wisata Lutim Menjanjikan
- Pewarta Foto Manado Turun Meliput Perayaan Cap Go Meh
- Bukittinggi, Satu-satunya Tempat Wisata Manca Negara di Sumbar
- Gunung Mekongga Diduga eks Volcano Purba


























