Gejolak People Power, Apakah Putin Penguasa Abadi Rusia
KOPI, Kremlin - (Alm) Mantan Presiden Ferdinan Marcos turun dari kekuasaan akibat People Power oleh Rakyat Philipina.tak jauh dengan nasib Orde baru masa Pemerintahaan (alm) Mantan Presiden Soeharto demontrasi besar-besaran dilakukan oleh kelompok Mahasiswa bersama dengan rakyat Indonesia menurunkan rezim orde baru.telah berkuasa selam 32 tahun di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini ribuan rakyat Negara Rusia turun kejalanan demontrasi besar-besaran untuk menurunkan Perdana Mentri Rusia Vladimir Putin dari kekuasaan.yang telah berkuasa 12 tahun memerintah Rusia.
Mantan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev meminta Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, tak mencalonkan diri lagi tahun depan. Pasalnya, Putin sudah lama memegang posisi politik tertinggi di Rusia, tepatnya tiga periode.
"Aku menyarankan agar Putin berhenti sekarang. Ia telah menjabat tiga periode; dua periode sebagai presiden dan satu periode sebagai perdana menteri, itu sudah cukup," kata Gorbachev pada radio Moscow Echo, seperti dikutip dari Telegraph.co.uk
Politikus berusia 80 tahun ini juga melontarkan kritik penyelenggaraan pemilu pada 4 Desember lalu. Dari hasil pemilu tersebut, partai Vladimir Putin berhasil meraih kemenangan 140 persen suara. Menurut Gorbachev, hasil tersebut harus dibatalkan dan diadakan pemilu lagi, karena penuh pemalsuan dan kecurangan.
"Hasilnya tidak merefleksikan keinginan dari masyarakat Rusia. Aku pikir mereka (para pemimpin Rusia) hanya dapat mengambil satu keputusan, menganulir hasil pemilu dan melakukan pemilihan ulang," ujar Gorbachev.
Ia sempat mempertimbangkan untuk ikut serta dalam demonstrasi besar-besar menuntut kemunduran Putin, di pusat kota Moskow hari ini, yang dihadiri puluhan ribu orang. Namun, Gorbachev tak dapat bergabung dan hanya menyampaikan salam pada para demonstran.
Sebelumnya, untuk menenangkan para demontran, Presiden Dmitry Medvedev pekan ini mengumumkan akan melakukan langkah-langkah reformasi. Antara lain melakukan pemilihan gubernur daerah. Tetapi masyarakat lebih menginginkan diulangnya pemilihan umum legislatif.
Sejak Sabtu, 24 Desember 2011 kemarin, puluhan ribu demonstran mengibarkan bendera dan berteriak-teriak menuntut pemilihan umum ulang dan sekaligus mengakhiri kekuasaan Vladimir Putin. Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap pemimpin Rusia itu, saat dia mencoba untuk memenangkan kembali kursi presiden.
Para pendemo meneriakkan, "Rusia tanpa Putin" dan "Pemilu baru, pemilu baru", menuntut diakhirinya kekuasaan Putin selama 12 tahun. Ini merupakan demonstrasi oposisi terbesar kedua dalam dua minggu di pusat kota Moskow.
Vladimir Putin (REUTERS / Jason Lee)
Para pendemo meneriakkan, "Rusia tanpa Putin" dan "Pemilu baru, pemilu baru", menuntut diakhirinya kekuasaan Putin selama 12 tahun, dalam demonstrasi oposisi besar kedua dalam dua minggu di pusat kota Moskow.
"Anda ingin Putin kembali menjadi presiden?" seru novelis, Boris Akunin kepada kerumunan ribuan orang yang langsung serempak menjawab, "Tidak."
Polisi mengatakan, setidaknya ada 28.000 orang berdemo di Prospekt Sakharova -- yang dinamai pembangkang era Soviet Andrei Sakharov. Namun, salah satu penyelenggara aksi, politisi liberal, Vladimir Ryzhkov mengatakan, ada 120.000 orang yang turut serta. Beberapa dari mereka memanjat tiang listrik dan pohon.
"Saya melihat cukup banyak orang untuk mengambil alih Kremlin dan Gedung Putih (kantor pemerintahan) sekarang!" kata blogger antikorupsi, Alexei Navalny -- tokoh oposisi terkemuka.
"Namun ini aksi damai, kami tak akan melakukannya. Belum. Tapi jika penjahat dan pencuri itu melanjutkan aksinya, berusaha menipu kami dengan kebohongan, kami akan mengambil alih kekuasaan. Sebab, kekuasaan adalah milik kita, rakyat!," kata Alexei.
Aksi protes terhadap Vladimir Putin menjalar ke seluruh Rusia akhir-akhir ini. Tanpa mempedulikan pandangan dan paham, puluhan ribu demonstran tumpah ruah di seluruh negeri menuntut diadakannya Pemilihan Umum (Pemilu) ulang.
Dugaan kecurangan pemilu banyak disampaikan oleh panitia pemungutan suara maupun komisi pemilihan umum Rusia. Salah satu bukti kecurangan adalah banyaknya kertas suara yang diduga ditulis oleh satu orang. Disinyalir, ini dilakukan oleh partai berkuasa, United Rusia.
Partai United Rusia sendiri mengalami penurunan terparah semenjak Vladimir berkuasa selama 12 tahun. Padahal, tahun depan, Perdana Menteri Putin berniat menjadi Presiden, sedangkan Medvedev akan menjadi PM. (Reuters) (sumber VVn).dd
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Empat Satgas Kontingen Garuda UNIFIL Serah Terimakan Wewenang
- Satgas Indo FPC Kontingen Garuda Akhiri Misi di Lebanon
- Dansatgas Indo FPC Hadiri Transfer of Authority Batalyon Korea UNIFIL
- TNI Peringati Hari Pahlawan di Lebanon
- TNI Rayakan Hari Raya Kurban di Lebanon
- Indonesia Terpilih sebagai Wakil Presiden Konferensi PBB Anti Korupsi Ke-4 di Marrakech, Maroko
- Gubernur Kalimantan Barat: “Kita tinjau ulang hasil pengukuran bersama di Camar Bulan dan Tanjung Datu”
- Indonesia Dukung Maroko sebagai Presiden IPU
- The 2nd International Workshop on South South Cooperation (SSC)
- IDC Desak UNHCR Bebaskan Penduduk Kamp Tindouf
- Konsul Malaysia Adakan Perayaan Kemerdekaan ke-54
- Aljazair, Polisario dan Gaddafi Saling Bersinergi
- Ahli AS: Partisipasi Maroko Sangat Dibutuhkan Atasi Perdagangan Narkoba
- Masyarakat Indonesia di Maroko Rayakan Idul Fitri 1432 H
- Peringatan HUT Ke-66 Proklamasi RI di KBRI Rabat Berlangsung Khidmat
Pemutakhiran Terakhir (Rabu, 28 Desember 2011 14:35)


























