Di tanah Udik orang-orang kami beranak pinakTak kenal dunia luar, jadi petani nelayan di pedalaman
Hidup mati sejak puluhan abad
Di tanah Udik Teluk Naga, sekitar Benteng Banten sampai kali Mookervaart
Dari Singkawang sampai Entikong
Dari Bangka sampai Belitung
Membuka hutan, Menaklukkan Alam
Membuka peradaban Campuran
Gelombang perantau Hok Kian ke negeri Nanyang
Bersua dengan perempuan Lokal
Sejak puluhan abad lalu
Kini, Alam kami memuntahkan kami
Jadi orang-orang kalah
Kami tercerabut dari alam Modernisasi yang tak mengenal tuannya lagi
Haruskah kami menaklukkan dunia Luar?
Tapi kehilangan akar budaya kami?
Ataukah Tetap Bertahan di pedalaman tapi kelaparan
Memakan sesama kami
Menjual Anak-anak gadis-gadis kami pada orang luar
Haruskah kami jadi Cina lagi,
padahal leluhur kami sudah tidak lagi
Dimanakah kami harus diakui?
Oleh dunia non Cina yang dari rahim perempuannya kami dilahirkan
Tapi kami belum sepenuhnya dianggap sama di negeri Diaspora dimana kami merantau
Kami sudah berasimilasi berpuluh abad
Tetapi tetap saja tidak dianggap warganegara yang setara
Lebih enak melamun mau menjadi apa yang kita inginkan,
tapi kita hanya bisa menikmati Diskriminasi di negeri kami sendiri,
Di tanah Udik yang tak mengenal sentuhan Negara
Catatan: Lirik puitis kiriman Sdri Rebecca di atas adalah rintihan tangis anak-anak negeri, titisan sejarah pergaulan nusantara di timur jauh yang hingga kini belum diakui sebagai warga negara oleh tanah harapan leluhurnya, bernama Indonesia.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|





















